Batu Raksasa Penyumbat Kelud Muncul

6 11 2007
 
 

 

Image

Kubah lava yang selama ini disebut-sebut sebagai penghambat terjadinya letusan Gunung Kelud mulai menampakkan diri sekitar lima meter dari permukaan kawah.

 

Kubah berwarna hitam pekat yang menyerupai pulau baru tersebut terlihat menyembul di tengah kawah, diiringi kepulan asap berwarna putih. Ketua Tim Tanggap Darurat Aktivitas Kelud dari Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) Bandung Umar Rosadi mengatakan, kubah lava yang terangkat ini diperkirakan merupakan sisa letusan tahun 1990 yang telah berubah menjadi batu andesit raksasa. Material ini terangkat ke atas setelah terdorong oleh gempa tremor yang terjadi pada Sabtu (2/10) lalu.

“Inilah ending misteri Kelud yang telah kita pantau sejak September lalu.Selama ini kita meraba-raba bagaimana bentuk sumbat lava yang telah mengganjal terjadinya letusan sejak krisis kemarin,” jelas Umar Rosadi di Balai Desa Sugihwaras, Kec Ngancar,Kab Kediri,kemarin sore. Dari pengamatan tim, kubah lava tersebut memiliki diameter 100 meter atau sepertiga dari diameter kawah sepanjang 300 meter. Hingga kemarin petang,kenaikan kubah ini mencapai 5 meter dari permukaan air kawah. Diperkirakan ketinggian kubah dari dasar kawah mencapai 43 meter, dihitung dari kedalaman air kawah yang mencapai 38 meter.

Sayangnya, tim belum bisa menentukan kedalaman sumbat lava ini dari dasar kawah.Namun, melihat posisi pusat gempa, diperkirakan bagian bawah sumbat ini masih tertancap sedalam 700 meter di bawah dasar kawah. “Ini berarti masih dibutuhkan tenaga yang jauh lebih besar dari dalam perut gunung untuk mengangkat seluruh sumbat itu ke atas.Tremor yang memiliki amplitudo melampaui 35 milimeter atau overscale kemarin ternyata hanya mampu mengangkat beberapa meter saja,”tambah Umar.

Sementara kepulan asap putih yang masih terjadi hingga sekarang dipastikan berasal dari rekahan sumbat lava yang telah terangkat.Asap tersebut merupakan uap panas dari pembakaran magma di bawah dasar kawah, yang secara terus-menerus melakukan suplai magma. Hingga saat ini, asap tersebut masih tampak jelas dan bisa dilihat dari jarak 10 kilometer di bawah kawah. Ketua Subbidang Pengawasan Gunung Api PVMBG Bandung Agus Budianto menjelaskan, fenomena baru tentang keluarnya kepulan asap tersebut saat ini menjadi prioritas pengawasan tim.

Sebab, melalui rekahan kubah yang menjadi jalur keluarnya asap tersebut akan terjadi penyusupan air besar-besaran ke dasar kawah dan melakukan kontak langsung dengan magma terdekat. Dikhawatirkan air tersebut akan berubah menjadi uap panas setelah terpengaruh suhu magma dan menimbulkan pendobrakan dasar danau kawah yang diikuti letusan uap. Letusan itu secara langsung akan serta-merta membawa air kawah ke atas dan menimbulkan letusan freatik dengan diikuti lahar letusan.

Karena dasar kawah sudah terbuka oleh letusan freatik,besar kemungkinan akan diikuti oleh letusan “Plinian” atau letusan gunung api. Hal ini ditandai dengan keluarnya awan panas, lontaran material pijar, serta abu dan debu vulkanik. “Inilah yang kita sebut dengan letusan Gunung Kelud yang sesungguhnya.

Seluruh material yang ada di bawah dasar kawah akan berhamburan ke atas dan menimpa apa saja di sekitarnya,”jelas Agus. Aktivitas Gunung Kelud sendiri hingga kemarin petang masih menunjukkan adanya gempa tremor sebanyak 81 kali. Meski tidak sebesar krisis pada Sabtu (2/11) lalu,amplitudo tremor masih fluktuatif dan berkisar pada angka 13,5 milimeter. Selain itu, alat seismik petugas juga mencatat munculnya satu kali gempa vulkanik dangkal. Asap putih masih keluar dengan ketinggian antara 500–800 meter dari bibir kawah. Sementara arah angin bertiup cukup kencang dari selatan ke utara. Sedangkan pengukuran deformasi petugas menunjukkan adanya perubahan sebesar 23 microredian (milimeter/juta).

Blitar dan Trenggalek Hujan Abu

Sementara itu,hujan abu melanda sejumlah kawasan di Kab Blitar dan Trenggalek. Hujan abu yang berlangsung sejak kemarin pagi tak urung membuat warga menjadi panik.Mereka mengira Gunung Kelud telah meletus, yang memang selalu ditandai dengan keluarnya hujan abu. Selain itu, cuaca alam yang terus-menerus hujan sejak pagi hingga sore menambah suasana semakin mencekam. “Hujan abu kali ini sangat besar, persis seperti ketika Kelud meletus pada 1990 lalu. Kami menyangka Gunung Kelud benar-benar meletus,” jelas Karyanto, salah seorang warga di Kec Wlingi,Blitar.

Untuk menghindari terjangkitnya penyakit infeksi saluran pernafasan atas (ISPA), Satlak Kab Blitar segera melakukan pembagian masker kepada warga. Setiap pengguna jalan yang melintas dan warga diberi masker yang terbuat dari kain tipis.Tebalnya debu ini juga menghalangi pandangan pengguna jalan. Guna menghindari kecelakaan lalu lintas, petugas kepolisian setempat meminta seluruh kendaraan untuk menyalakan lampu. Kondisi yang sama juga terjadi di wilayah Trenggalek.

Meski tidak separah Blitar,kawasan yang terletak di sebelah barat daya Gunung Kelud tersebut juga mengalami hujan abu. Sejumlah kendaraan yang melintas juga terpaksa menyalakan lampu untuk menembus kepekatan abu. Dikonfirmasi hal itu, Umar Rosadi membantah jika hujan abu tersebut berasal dari Kelud. Menurutnya, material abu tersebut berasal dari Gunung Semeru yang terletak di Kab Lumajang.Apalagi saat ini gunung api tersebut juga sedang memasuki masa letusan.

About these ads

Aksi

Information

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: