Warga Blitar Pasang Janur Kuning

3 11 2007

Peningkatan aktivitas vulkanik Gunung Kelud semakin menggila.Alat seismograf petugas bahkan tidak lagi mampu mendeteksi gempa vulkanik.

Yang terdeteksi hanya gempa tremor yang jumlahnya tidak terhitung lagi. Ketua Tim Tanggap Darurat Aktivitas Kelud Umar Rosadi menilai,krisis kali ini merupakan yang tertinggi dalam sejarah Gunung Kelud. Sejak pukul 00.00–06.00 WIB kemarin,tim mencatat terjadinya 599 gempa vulkanik dangkal,52 gempa vulkanik dalam, 1 gempa tektonik jauh,dan 36 gempa tremor.

Kondisi ini semakin memuncak pada pukul 11.07 WIB,di mana alat seismograf petugas sudah tidak mampu lagi mendeteksi gempa-gempa vulkanik yang terjadi.Alat tersebut hanya bisa menangkap terjadinya tremor dalam jumlah yang tak terhitung lagi dengan amplitudo mencapai 15 milimeter.

“Mulai pukul tersebut alat kami sudah tidak mampu lagi membaca gempa vulkanik selain tremor yang muncul terus-menerus. Biasanya hal ini akan diikuti oleh letusan karena tidak ada gejala lagi di atasnya,”jelas Umar Rosadi. Sementara di Kab Blitar,sejumlah warga yang tinggal di sekitar aliran lahar Kali Badak dan Kali Kuning, Desa Penataran, Kec Nglegok, mulai memasang janur kuning di depan rumah mereka.

Hal itu sebagai pertanda Gunung Kelud segera meletus, sekaligus menandai rumah mereka agar tidak diterjang aliran lahar. Dua kampung yang hanya berjarak 10 kilometer dari aliran lahar terbesar tersebut saat ini dihuni kurang lebih 500 jiwa. Berdasarkan pengalaman letusan pada 1990 silam,rumah yang ditandai dengan janur kuning akan selamat dari terjangan lahar.

“Janur kuning ini sudah menjadi kepercayaan kami secara turun-temurun. Mudah-mudahan letusan kali ini tidak akan merusak rumah kami,”ujar Ny Sukemi, warga Desa Penataran. Secara teoritik, tidak ada lagi hambatan yang mampu menahan letusan dalam kondisi seperti ini. Bahkan,ketebalan sumbat lava yang selama ini disebut-sebut sebagai satusatunya penghalang tidak menutup kemungkinan akan tertembus juga.

Apalagi, hingga kini belum diketahui secara pasti berapa besar energi yang mendorong magma keluar. Hal inilah yang membuat tidak satu pun anggota tim pemantau yang berani meninggalkan alat pantau mereka di pos pemantauan di Dusun Margomulyo, Desa Sugihwaras, Kec Ngancar,Kab Kediri. Bahkan acara jumpa pers yang biasanya dilakukan setiap pukul 15.00 WIB di Balai Desa Sugihwaras terpaksa dibatalkan.

Melalui Kapolres Kediri AKBP Ekky Heri Festianto,tim hanya menyampaikan laporan terjadinya tremor yang sangat besar dan berpotensi diikuti letusan. Hingga malam ini, seluruh anggota tim pemantau masih bekerja serius melakukan evaluasi dengan menggabungkan tiga parameter, yakni deformasi, peningkatan suhu, dan kegempaan. Pantauan terus dilakukan dari menit ke menit untuk menentukan langkah mitigasi selanjutnya.

Hingga pukul 18.00 WIB, suhu air kawah di permukaan mencapai 40,4 derajat Celsius, kedalaman 10 meter sebesar 41,0 derajat Celsius,dan suhu di kedalaman 15 meter menembus angka 42,8 derajat Celsius. Sementara malam harinya, sekitar pukul 22.00 WIB,suhu kawah permukaan mencapai 41.6 derajat Celsius, kedalaman 10 meter 42,4 derajat Celsius, dan pada kedalaman 15 meter 44,2 derajat Celsius.

“Kami masih memelototi tremor yang muncul. Kalau kondisinya sudah tidak memungkinkan, kita akan segera meninggalkan pos ini secepatnya,”jelas Umar. Disinggung perkiraan waktu terjadinya letusan, Umar menegaskan tidak ada satu pun alat yang bisa mengukur hal itu.Namun, dari tiga parameter yang ditunjukkan Gunung Kelud, dipastikan jika letusan yang ditunggu-tunggu itu akan segera terjadi.

Karena itu, dia meminta warga yang masih bertahan di kawasan rawan bencana (KRB) II atau di wilayah 10 kilometer dari kawah segera meninggalkan lokasi. Sementara itu kondisi di sekitar Gunung Kelud yang mencekam tak urung membuat warga di Desa Sugihwaras, Kec Ngancar, yang merupakan kawasan terdekat dengan lokasi bencana memutuskan mengungsi.

Padahal sebelumnya, mereka meyakini Kelud tidak akan meletus dan memilih bertahan di rumah. Sejak pagi kemarin rombongan pengungsi tampak meninggalkan desa itu. Untuk membantu proses evakuasi, sejumlah kendaraan patroli milik Polsek Ngancar dengan didukung truk Dalmas Polres dan bus milik Pemkab Kediri juga disiagakan. Demikian pula dengan kendaraan roda dua milik petugas yang tak hentihentinya berkeliling kampung untuk memastikan evakuasi diikuti seluruh penduduk.

“Peringatan ini tidak mainmain, Gunung Kelud akan segera meletus.Tidak boleh ada seorang pun yang tinggal di rumah,” ujar Kepala Desa Sugihwaras Susiadi melalui pengeras suara saat berkeliling dengan sepeda motor. Kepanikan warga sempat terjadi ketika tiba-tiba hujan deras mengguyur kawasan itu sejak pagi.

Kondisi puncak Gunung Kelud yang terus-menerus tertutup awan pekat semakin membuat angker suasana. Pasalnya,hal yang sama juga terjadi pada letusan tahun 1990 lalu, di mana sedikitnya 39 jiwa menjadi korban dalam musibah tersebut. Dikonfirmasi jumlah penduduk yang berhasil dievakuasi, Kapolres Kediri AKBP Ekky Heri Festianto memastikan tidak kurang dari 90% warga di Desa Sugihwaras yang selama ini terkenal paling sulit dievakuasi sudah berada di pengungsian.

Mereka dikumpulkan di satu tempat di Balai Desa Tawang, Kec Wates,Kab Kediri. “Saat ini yang masih tinggal di rumah hanya pemuda yang jumlahnya tidak kurang dari 10% saja. Mereka akan dengan mudah menyelamatkan diri menggunakan sepeda motor yang sudah disiagakan,” jelas Ekky.

Untuk memastikan tidak ada satu pun warga yang tertinggal, puluhan personel dari Polres Kediri kembali menggelar penyisiran sejak pukul 20.00 WIB. Dengan menggunakan kendaraan patroli dan sepeda motor, petugas memeriksa satu per satu rumah warga yang masih tampak ramai. Jika ada perempuan, anak-anak, dan lansia yang tertinggal, akan segera dievakuasi paksa ke tempat pengungsian. Penambahan pengungsi juga terjadi di Kec Kepung,Kediri.

Lapangan Desa Pluncing yang biasanya ditempai 2.800 pengungsi, sejak kemarin pagi terus dibanjiri penghuni baru. Sedikitnya 200 jiwa yang diangkut menggunakan 4 buah truk tiba di tempat pengungsian yang pernah disinggahi Presiden SBY itu. Mereka menempati tenda-tenda militer yang dibangun berjajar di tengah lapangan.

“Kalau sudah musim penghujan ini susah.Selain udaranya dingin,air hujan juga merembes ke dalam tanah.Kasihan anak-anak dan orang tua,” ujar Supardi, salah seorang pengungsi di tempat itu. Peningkatan arus pengungsi juga terlihat di Balai Desa Siman yang dihuni 300 jiwa dan gedung Koperasi Pegawai Negeri (KPN) yang dihuni 70 pengungsi.

Sebelumnya, tempat tersebut sempat kosong menyusul merebaknya kabar penurunan status beberapa waktu lalu. Namun setelah diumumkan peningkatan aktivitas hingga mendekati letusan, satu per satu warga di Kec Kepung berduyun-duyun menempati gedung tersebut.

 

Sumber : Hari Tri Wasono – Koran Sindo





Diguncang 1.239 Gempa,Kelud Tetap Tak Meletus

2 11 2007

Gunung Kelud kembali memasuki masa krisis. Dalam waktu 22 jam, hingga 22.00 WIB tadi malam, terjadi 1.239 kali gempa vulkanik dangkal.

Jumlah ini jauh melebihi masa krisis (16/10) dengan gempa sebanyak 518 kali dan letusan tahun 1990 yang diawali 312 kali gempa. Ketua tim Tanggap Darurat Aktivitas Kelud dari Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMB) Bandung, Umar Rosadi menjelaskan, krisis kedua setelah tanggal (16/10) ini mulai terasa pukul 00 WIB dan membesar sejak pukul 06.00 WIB, kemarin.

Saat itu, alat seismograf petugas mencatat terjadinya 11 kali gempa vulkanik dalam, 59 kali gempa vulkanik dangkal, 2 kali gempa tektonik jauh, dan 4 kali tremor mulai pukul 00.00 WIB. “Saat itu gempa vulkanik dangkal terjadi terus menerus dan diikuti tremor. Kami khawatir krisis Kelud kembali terjadi,” ujar Umar Rosadi. Begitu mengetahui gejala tersebut, tim langsung melakukan evaluasi. Dan bersiap menghadapi kemungkinan terjadinya krisis jilid kedua.

Selanjutnya, tim bergegas menghubungi Satlak Ka bupaten Kediri untuk melakukan tindakan evakuasi warga, terutama di kawasan rawan bencana (KRB) II dalam radius 10 kilometer dari pusat kawah. Tak lama kemudian, sejumlah mobil patroli dari Polsek Ngancar bergerak menyisir kawasan Desa Sugihwaras, Kec Ngancar, yang merupakan desa terdekat dengan lokasi bencana.

Melalui pengeras suara, petugas meminta warga untuk segera menuju tempat berkumpul yang telah ditentukan, untuk selanjutnya diangkut menggunakan truk polisi ke tempat pengungsian di Balai Desa Tawang,Kec Wates. Ironisnya,warga yang masih meyakini jika Gunung Kelud belum akan meletus, memilih mengunci pintu rumahnya masing- masing. Mereka berusaha bertahan di rumah dan mengindahkan imbauan petugas.

Hal ini sempat membuat petugas dari Polres Kediri kerepotan dan terpaksa mengerahkan pasukan bersepeda motor. Satu per satu warga yang terlihat di depan rumah, langsung dibonceng sepeda motor untuk dibawa ke tempat evakuasi. Sejumlah orang tua dan anak-anak juga tampak dinaikkan ke atas sepeda motor untuk meninggalkan rumah mereka.

“Kami cukup kesulitan menghadapi warga yang membandel dan tidak mau diungsikan.Terpaksa diambil satu per satu di rumahnya dengan sepeda motor,” ujar Kepala Pos Pengamanan Desa Sugihwaras,Ipda Iswahyudi. Sementara itu, situasi mencekam terus berlangsung pada pos pemantauan Gunung Kelud di Dusun Margomulyo.

Pasalnya, gempa vulkanik dalam terus merangkak naik mencapai ratusan kali. Hingga pukul 12.00 WIB, tim mencatat terjadinya 14 kali gempa vulkanik dalam, 607 kali gempa vulkanik dangkal, 80 kali gempa tremor vulkanik, dan 4 kali gempa tektonik jauh. Sementara suhu air kawah di permukaan sebesar 38,5 derajat Celsius, kedalaman 10 meter sebesar 39,4 derajat Celsius, dan kedalaman 15 meter mencapai 39,7 derajat Celsius, atau selisih 0,3 poin dari suhu kawah pada letusan tahun 1990 yang mencapai 40 derajat Celsius.

Kepada wartawan, Umar Rosadi menilai, kondisi aktivitas Kelud saat ini sudah di luar batas kewajaran. Bahkan, parameter kegempaan kali ini jauh melebihi kondisi Kelud pada masa krisis (16/10) dan letusan tahun 1990 silam. Jika pada masa letusan tahun 1990 tercatat 312 kali gempa vulkanik, jumlah gempa kali ini sudah dua kali lebih banyak.

Demikian juga dengan amplitudo gempa yang juga melebihi letusan tahun 1990, di mana saat itu hanya sebesar 15 milimeter pada gempa vulkanik dalam dan 3 milimeter pada gempa vulkanik dangkal. Sementara amplitudo kali ini, sudah mencapai 19,5 milimeter pada gempa vulkanik dalam dan 6 milimeter pada gempa vulkanik dangkal.

“Dengan kegempaan yang seperti itu, lagi-lagi tetap tidak mampu menembus sumbat lava yang menutup saluran kepundan. Dari pergerakan magma yang terpantau, diperkirakan ketebalan sumbat ini mencapai 700 meter di bawah dasar kawah,”jelas Umar. Sampai saat ini, tim masih memantau terjadinya tremor yang masih terus berlangsung.

Jika tremor tersebut terus beriringan dengan amplitudo yang terus membesar, dipastikan akan diikuti letusan yang sangat dahsyat. Sebab, seluruh material yang menjadi sumbat lava akan berhamburan ke atas dan menimpa seluruh kawasan dalam radius 10 kilometer. Karena itu, tim vulkanologi tetap meminta kesiapan Satlak untuk mengosongkan areal KRB II dari penduduk yang tetap membandel. Apalagi hingga pukul 18.00 WIB, jumlah gempa vulkanik dalam sudah terekam sebanyak 994 kali.

Diperkirakan, jumlah ini akan terus membesar hingga pukul 24.00 WIB dan diikuti terjadinya letusan. Jika hal itu terjadi, tim khawatir akan menimbulkan kepanikan warga dan mengakibatkan jatuhnya korban jiwa. Selain itu, Satlak juga akan kesulitan melakukan evakuasi jika letusan terjadi pada malam hari. “Satu-satunya alat peringatan kami jika sudah terjadi masa erupsi adalah membunyikan sirene peringatan. Suara sirene ini akan terdengar hingga radius 10 kilometer,” jelas Umar.

Warga Blitar Panik

Sementara itu, kabar peningkatan aktivitas Gunung Kelud memicu kepanikan ribuan warga di Kabupaten Blitar. Sejumlah sekolah bahkan memutuskan untuk menghentikan kegiatan belajar dan memulangkan seluruh siswanya. Hal ini terjadi di kawasan yang dekat dengan aliran kawah Gunung Kelud,seperti Kecamatan Nglegok, Ponggok, Kanigoro, dan Wlingi Kabupaten Blitar.

Dwi Lestari,salah seorang guru Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Udanawu, Blitar, memilih memulangkan seluruh siswanya sekitar pukul 12.00 WIB kemarin. Berdasarkan informasi yang ia terima,Gunung Kelud sudah meletus dan siap mengalirkan lahar panas ke kawasan itu. “Banyak yang bilang,Gunung Kelud sudah meletus. Makanya, seluruh siswa dipulangkan untuk menyelamatkan diri,”ujarnya.

Kepanikan tersebut juga dirasakan warga di Kecamatan Nglegok. Imam Syafii, salah seorang perangkat desa, bahkan nekat datang ke pos pantau Kelud di Desa Sugihwaras, Kec Ngancar, Kab Kediri untuk memastikan hal itu. Pasalnya, situasi alam yang terjadi sama persis dengan kondisi saat letusan tahun 1990 terjadi. Sejak kemarin pagi, puncak Kelud ditutupi awan hitam disertai hujan deras.

Hal ini menambah suasana semakin mencekam di tengah proses evakuasi warga yang berlangsung. “Kondisi ini sama persis dengan letusan tahun 1990 silam. Hujan deras disertai petir menyambar terus- terusan. Saya nekat ke sini, untuk mencari kepastian,” jelas Imam Syafii. Hingga kemarin malam, suasana di Desa Sugihwaras masih mencekam. Sejumlah lampu penerangan tampak dimatikan oleh petugas PLN setempat untuk menghindari terjadinya hubungan pendek.

Meski tidak seluruh warga desa ikut mengungsi, namun sebagian besar memilih mengunci diri di dalam rumah. Kepala Desa Sugihwaras Susiadi menjelaskan, dari 790 Kepala Keluarga atau 3.259 jiwa, hanya 40% saja yang memilih mengungsi. Mereka masih berkeyakinan jika Gunung Kelud tidak akan meletus dalam waktu dekat.“Masih banyak warga yang bertahan di rumah. Yang penting, orang tua dan anakanak sudah dievakuasi semua,” jelasnya saat ditemui di Balai Desa Sugihwaras,kemarin petang.

Sumber : Hari Tri Wasono – Koran Sindo JawaTimur

Diposting oleh : Asep Moh. Muhsin