Kekeringan

13 09 2007

KEKERINGAN mulai melanda sejumlah wilayah di Tanah Air. Ratusan ribu hektare tanaman pangan, terutama padi, di Pulau Jawa terancam. Luas lahan padi yang potensial gagal panen terus bertambah seiring dengan musim kemarau yang berubah pola.Perubahan iklim–para ahli mengaitkannya dengan gejala pemanasan global–menyebabkan musim hujan dan kemarau di Indonesia bergeser. Musim kemarau yang biasanya terjadi pada periode April sampai Oktober, tahun ini baru dimulai pada Juli.

Demikian juga dengan musim hujan yang bergeser dari November sampai Maret ke Februari hingga Juni.Di Indonesia sudah lama diterima sebagai kelaziman bahwa hujan dan panas selalu membawa bencana. Musim hujan banjir melanda, musim panas kekeringan menerkam, dan asap menyumbat pernapasan karena pembakaran hutan.Kekeringan dan gagal panen yang diakibatkannya bukanlah persoalan baru. Hujan dan gagal panen akibat banjir yang melanda, juga bukan soal baru. Yang amat merisaukan, justru, mengapa daya solusi terhadap bencana-bencana rutin itu tidak bertambah baik. Merupakan malapetaka jika penguasa dan pemimpin Indonesia sekarang bersikap sama dengan penguasa yang lalu-lalu, yang menganggap bencana adalah kelaziman. Karena lazim, lalu dianggap wajar.Cara pandang seperti ini sudah tidak lagi pada tempatnya sekarang. Teknologi telah cukup membantu untuk meramalkan anomali iklim. Bila perubahan musim sekarang akan menjadi pola baru yang bertahan lama, haruslah segera diketahui publik, terutama petani, agar mereka mengubah pola tanam.Bila kekeringan ini semakin lama melanda, yang terancam adalah ketahanan pangan nasional. Walaupun pemerintah mengatakan dengan beras yang berada di tangan saat ini mencapai 1,7 juta ton cukup untuk mengantisipasi kebutuhan delapan bulan, tetap saja kekeringan tidak bisa dibiarkan sebagai kewajaran.Tahun ini, mungkin akibat perubahan pola iklim global, produksi beras dunia menurun. Jika kekeringan di Indonesia tidak segera diatasi, dikhawatirkan Indonesia akan kesulitan memperoleh beras di pasar dunia untuk menutupi kekurangan di dalam negeri.Kalkulasi jitu tentang produksi dan konsumsi adalah kecerdasan yang wajar. Tetapi problem Indonesia sesungguhnya tidak terletak di sana. Persoalan Indonesia yang berkaitan dengan bencana adalah minimnya upaya dan komitmen membenahi problem di hulu. Bencana alam, entah banjir dan kekeringan, memiliki kaitan yang sangat erat dengan perhatian dan kepedulian terhadap lingkungan. Di Indonesia, bencana dari waktu ke waktu tidak menyadarkan apa-apa tentang pemeliharaan lingkungan. Pembangunan berwawasan lingkungan belum menjadi sikap operasional pemerintah di segala lini. Dibutuhkan sebuah gerakan penyadaran yang terus-menerus untuk prinsip yang bagus, tetapi terabaikan ini. Kementerian Lingkungan Hidup bukannya tidak bekerja. Namun, pengaruhnya terlalu sedikit kepada instansi-instansi yang memiliki kewenangan eksekusi, seperti gubernur dan bupati.Kekeringan yang melanda setiap tahun menjadi bencana bagi pertanian karena persediaan air di waduk dan sungai yang berkurang sangat drastis. Akan tetapi pola pikiran pembangunan dan perencanaan di Indonesia tidak serius menangani konservasi. Pembabatan hutan di gunung maupun di wilayah konservasi terus berlangsung, bahkan dengan tingkat keganasan yang menjadi-jadi. Pembangunan kota, di Jakarta, misalnya, setiap tahun menggusur wilayah resapan.Di bidang pertanian hampir tidak ada lagi pembangunan waduk dan prasarana irigasi baru. Ekstensifikasi pertanian adalah program yang tidak jelas implikasi dan arahnya. Jadi, selama peradaban lingkungan tidak tumbuh dan berkembang, selama itu pula bencana akan selalu menerpa negeri. Hujan bencana, panas pun bencana. Negeri yang indah dan penuh pesona ini tidak mampu kita pelihara. Kita mengubahnya menjadi prahara.


Aksi

Information

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: