Diguncang 1.239 Gempa,Kelud Tetap Tak Meletus

2 11 2007

Gunung Kelud kembali memasuki masa krisis. Dalam waktu 22 jam, hingga 22.00 WIB tadi malam, terjadi 1.239 kali gempa vulkanik dangkal.

Jumlah ini jauh melebihi masa krisis (16/10) dengan gempa sebanyak 518 kali dan letusan tahun 1990 yang diawali 312 kali gempa. Ketua tim Tanggap Darurat Aktivitas Kelud dari Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMB) Bandung, Umar Rosadi menjelaskan, krisis kedua setelah tanggal (16/10) ini mulai terasa pukul 00 WIB dan membesar sejak pukul 06.00 WIB, kemarin.

Saat itu, alat seismograf petugas mencatat terjadinya 11 kali gempa vulkanik dalam, 59 kali gempa vulkanik dangkal, 2 kali gempa tektonik jauh, dan 4 kali tremor mulai pukul 00.00 WIB. “Saat itu gempa vulkanik dangkal terjadi terus menerus dan diikuti tremor. Kami khawatir krisis Kelud kembali terjadi,” ujar Umar Rosadi. Begitu mengetahui gejala tersebut, tim langsung melakukan evaluasi. Dan bersiap menghadapi kemungkinan terjadinya krisis jilid kedua.

Selanjutnya, tim bergegas menghubungi Satlak Ka bupaten Kediri untuk melakukan tindakan evakuasi warga, terutama di kawasan rawan bencana (KRB) II dalam radius 10 kilometer dari pusat kawah. Tak lama kemudian, sejumlah mobil patroli dari Polsek Ngancar bergerak menyisir kawasan Desa Sugihwaras, Kec Ngancar, yang merupakan desa terdekat dengan lokasi bencana.

Melalui pengeras suara, petugas meminta warga untuk segera menuju tempat berkumpul yang telah ditentukan, untuk selanjutnya diangkut menggunakan truk polisi ke tempat pengungsian di Balai Desa Tawang,Kec Wates. Ironisnya,warga yang masih meyakini jika Gunung Kelud belum akan meletus, memilih mengunci pintu rumahnya masing- masing. Mereka berusaha bertahan di rumah dan mengindahkan imbauan petugas.

Hal ini sempat membuat petugas dari Polres Kediri kerepotan dan terpaksa mengerahkan pasukan bersepeda motor. Satu per satu warga yang terlihat di depan rumah, langsung dibonceng sepeda motor untuk dibawa ke tempat evakuasi. Sejumlah orang tua dan anak-anak juga tampak dinaikkan ke atas sepeda motor untuk meninggalkan rumah mereka.

“Kami cukup kesulitan menghadapi warga yang membandel dan tidak mau diungsikan.Terpaksa diambil satu per satu di rumahnya dengan sepeda motor,” ujar Kepala Pos Pengamanan Desa Sugihwaras,Ipda Iswahyudi. Sementara itu, situasi mencekam terus berlangsung pada pos pemantauan Gunung Kelud di Dusun Margomulyo.

Pasalnya, gempa vulkanik dalam terus merangkak naik mencapai ratusan kali. Hingga pukul 12.00 WIB, tim mencatat terjadinya 14 kali gempa vulkanik dalam, 607 kali gempa vulkanik dangkal, 80 kali gempa tremor vulkanik, dan 4 kali gempa tektonik jauh. Sementara suhu air kawah di permukaan sebesar 38,5 derajat Celsius, kedalaman 10 meter sebesar 39,4 derajat Celsius, dan kedalaman 15 meter mencapai 39,7 derajat Celsius, atau selisih 0,3 poin dari suhu kawah pada letusan tahun 1990 yang mencapai 40 derajat Celsius.

Kepada wartawan, Umar Rosadi menilai, kondisi aktivitas Kelud saat ini sudah di luar batas kewajaran. Bahkan, parameter kegempaan kali ini jauh melebihi kondisi Kelud pada masa krisis (16/10) dan letusan tahun 1990 silam. Jika pada masa letusan tahun 1990 tercatat 312 kali gempa vulkanik, jumlah gempa kali ini sudah dua kali lebih banyak.

Demikian juga dengan amplitudo gempa yang juga melebihi letusan tahun 1990, di mana saat itu hanya sebesar 15 milimeter pada gempa vulkanik dalam dan 3 milimeter pada gempa vulkanik dangkal. Sementara amplitudo kali ini, sudah mencapai 19,5 milimeter pada gempa vulkanik dalam dan 6 milimeter pada gempa vulkanik dangkal.

“Dengan kegempaan yang seperti itu, lagi-lagi tetap tidak mampu menembus sumbat lava yang menutup saluran kepundan. Dari pergerakan magma yang terpantau, diperkirakan ketebalan sumbat ini mencapai 700 meter di bawah dasar kawah,”jelas Umar. Sampai saat ini, tim masih memantau terjadinya tremor yang masih terus berlangsung.

Jika tremor tersebut terus beriringan dengan amplitudo yang terus membesar, dipastikan akan diikuti letusan yang sangat dahsyat. Sebab, seluruh material yang menjadi sumbat lava akan berhamburan ke atas dan menimpa seluruh kawasan dalam radius 10 kilometer. Karena itu, tim vulkanologi tetap meminta kesiapan Satlak untuk mengosongkan areal KRB II dari penduduk yang tetap membandel. Apalagi hingga pukul 18.00 WIB, jumlah gempa vulkanik dalam sudah terekam sebanyak 994 kali.

Diperkirakan, jumlah ini akan terus membesar hingga pukul 24.00 WIB dan diikuti terjadinya letusan. Jika hal itu terjadi, tim khawatir akan menimbulkan kepanikan warga dan mengakibatkan jatuhnya korban jiwa. Selain itu, Satlak juga akan kesulitan melakukan evakuasi jika letusan terjadi pada malam hari. “Satu-satunya alat peringatan kami jika sudah terjadi masa erupsi adalah membunyikan sirene peringatan. Suara sirene ini akan terdengar hingga radius 10 kilometer,” jelas Umar.

Warga Blitar Panik

Sementara itu, kabar peningkatan aktivitas Gunung Kelud memicu kepanikan ribuan warga di Kabupaten Blitar. Sejumlah sekolah bahkan memutuskan untuk menghentikan kegiatan belajar dan memulangkan seluruh siswanya. Hal ini terjadi di kawasan yang dekat dengan aliran kawah Gunung Kelud,seperti Kecamatan Nglegok, Ponggok, Kanigoro, dan Wlingi Kabupaten Blitar.

Dwi Lestari,salah seorang guru Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Udanawu, Blitar, memilih memulangkan seluruh siswanya sekitar pukul 12.00 WIB kemarin. Berdasarkan informasi yang ia terima,Gunung Kelud sudah meletus dan siap mengalirkan lahar panas ke kawasan itu. “Banyak yang bilang,Gunung Kelud sudah meletus. Makanya, seluruh siswa dipulangkan untuk menyelamatkan diri,”ujarnya.

Kepanikan tersebut juga dirasakan warga di Kecamatan Nglegok. Imam Syafii, salah seorang perangkat desa, bahkan nekat datang ke pos pantau Kelud di Desa Sugihwaras, Kec Ngancar, Kab Kediri untuk memastikan hal itu. Pasalnya, situasi alam yang terjadi sama persis dengan kondisi saat letusan tahun 1990 terjadi. Sejak kemarin pagi, puncak Kelud ditutupi awan hitam disertai hujan deras.

Hal ini menambah suasana semakin mencekam di tengah proses evakuasi warga yang berlangsung. “Kondisi ini sama persis dengan letusan tahun 1990 silam. Hujan deras disertai petir menyambar terus- terusan. Saya nekat ke sini, untuk mencari kepastian,” jelas Imam Syafii. Hingga kemarin malam, suasana di Desa Sugihwaras masih mencekam. Sejumlah lampu penerangan tampak dimatikan oleh petugas PLN setempat untuk menghindari terjadinya hubungan pendek.

Meski tidak seluruh warga desa ikut mengungsi, namun sebagian besar memilih mengunci diri di dalam rumah. Kepala Desa Sugihwaras Susiadi menjelaskan, dari 790 Kepala Keluarga atau 3.259 jiwa, hanya 40% saja yang memilih mengungsi. Mereka masih berkeyakinan jika Gunung Kelud tidak akan meletus dalam waktu dekat.“Masih banyak warga yang bertahan di rumah. Yang penting, orang tua dan anakanak sudah dievakuasi semua,” jelasnya saat ditemui di Balai Desa Sugihwaras,kemarin petang.

Sumber : Hari Tri Wasono – Koran Sindo JawaTimur

Diposting oleh : Asep Moh. Muhsin


Aksi

Information

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: